Minggu, 26 Agustus 2012

Secangkir Coklat Panas

Secangkir Coklat Panas

Sekelompok alumni melakukan reuni, dan kemudian memutuskan untuk pergi mengunjungi profesor favorit mereka yang sudah pensiun. Saat berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stres pada kehidupan dan pekerjaan mereka.

Profesor itu menyajikan coklat panas pada tamu-tamunya. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas di teko yang besar dan berbagai macam cangkir: porselen, gelas, kristal, dan lain-lain; sebagiannya bagus dan berharga mahal, akan tetapi sebagian lagi bentuknya biasa saja harganya murah. Ia mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut.



Ketika mereka semua memegang secangkir coklat panas di tangan mereka, profesor yang bijak berkata, “Perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah diambil. Yang tersisa, hanyalah cangkir yang biasa dan murah. Memang, adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik. Namun, itu adalah sumber dari masalah dan stres kalian.”

“Cangkir tidak menambahkan kualitas dari coklat panas. Pada kebanyakan kasus, itu hanya menambah mahal, dan bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah coklat panas, bukan cangkirnya. Tetapi secara tidak sadar kalian menginginkan cangkir yang terbaik. Lalu, kalian mulai saling melihat dan membandingkan cangkir kalian masing-masing.”

Para alumni terdiam, menyimak nasehat dari profesor.

“Sekarang pikirkan ini: Kehidupan adalah coklat panas. Pekerjaan, Uang, dan Kedudukan adalah cangkirnya. Itu hanyalah alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian miliki.”

Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita hanya pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan membuat coklat panasnya, tetapi manusia memilih cangkirnya. Orang-orang yang paling bahagia tidak memiliki semua yang terbaik. Mereka hanya berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki.

Profesor itu berhenti sejenak, menghela nafas, lalu melanjutkan, “Hiduplah dengan sederhana. Bermurah hatilah. Perhatikanlah sesama dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, silakan nikmati coklat panas kalian.”

Courtesy of Pengusaha muslim

18 komentar:

  1. ya, mengena sekali. pesannya dapet. siip.

    BalasHapus
  2. Nasehat yang sangat bijak dengan kata khiasan... Tentu seorang yg hebat profesor tersebut tentunya ya..

    BalasHapus
  3. wah artikel yg luar biyasa, thanks sob :)

    BalasHapus
  4. ehm. bener juga, saya mau menikmati coklat panas kehidupan bang. tapi entar klo ente punya uang, mending di kasih kesaya aja ya, kan ente ga mau cangkirnya. heheheh. motifasi yang luar biasa bang. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiah, saya juga lagi berjuang cari duid nih u.u
      buat kawin nanti xD

      Hapus
  5. "cangkir tdak menambah kualitas dari cokelat panas, itu hanya membuatnya menjadi mahal" memang ya, terkadang kita itu lebih memandang 'cangkirnya' daripada menikmati'cokelatnya'. Saya dapatkan pesannya Bang! :)

    BalasHapus
  6. If only i cud read what you wrote..but great coffee photo~!

    BalasHapus
    Balasan
    1. umm, maybe you can use translate.google.com :D

      Hapus
  7. Ngomomgin soal Coklat wah saya juga suka. Mulai dari susu coklat, coklat susu, sampai pada coklat meses yang buat roti itu. Hiehiehiehieie. Mantap Sob

    BalasHapus
    Balasan
    1. gubrak ....
      Ini cuma analogi mas hahaha

      Hapus
  8. Sangat menarik sekali, intinya pandailah bersyukur dan berfokus dan nikmatlah apa yang telah dimiliki. Pastinya terus berusaha untuk menuju ke hal yang lebih baik lagi. Hidup itu indah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, hidup itu indah ...
      Terkadang kita sendiri yang membuat itu ribet :)

      Hapus
  9. bener juga terkadang yang biasa aja dapat terlihat begitu mahal dan ebaliknya

    terimaksih postingannya :)

    BalasHapus

Dilarang keras:

1. Memancing keributan
2. Flaming
3. Spamming
4. Out of topic
5. Junk
6. Berkata kotor, kasar, menghina orang lain
7. Menghina agama
8. Memasang link hidup

Berkomentar, follow blog saya dan saya lakukan hal serupa dengan blog anda
Budayakan komentar berbobot !