Dini dan Dono adalah pasangan baru yang hidupnya pas-pasan. Bak dongeng, meski kondisi kesehariannya sederhana, mereka mengaku kaya akan cinta. Tak mau kalah dengan gaya hidup orang kota besar,hari valentine juga mereka rayakan dengan saling membari kado. Semula Dini ragu hadiah apa yang akan diberikan untuk suaminya. Akhirnya diputuskan rantai arloji tangan untuk menggantikan milik suaminya yang sudah putus. Lantaran tak punya uang, Dini memilih jalan nekad. Ia sengaja memotong rambutnya yang panjang sampai lutut dan menjualnya. Dari hasil penjualan rambutnya itulah dini berhasil membeli rantai arloji.
Wanita semampai ini pulang ke rumah dengan penuh harap Dono pasti senang karena arloji satu-satunya hadiah perkawinan yang masih tersisa akan bisa dipakai lagi. Padahal sesungguhnya hatinya gundah. Selama ini Dono amat mengagumi rambutnya yang panjang dan indah itu. Kecewakah Dono lantaran ia memotong rambutnya?
Dini terkejut mendapati sang suami sudah pulang terlebih dahulu dan menunggunya diruang tamu. Tangan Dono menggenggam bungkusan kado yang siap diberikan kepada sang istri tercinta. Sesaat ia terkesima melihat rambut istrinya yang terpotong pendek. Meski tak berbicara sepatah kata pun, wajah pria ini menyiratkan rasa kecewa. Ia lantas menyodorkan hadiahnya ke hadapan sang istri. Ketika membuka kado itu, mata Dini terbelalak. Sekejab air matanya berlinangan. Di dalam kotak tampak sisir lipat model baru warna perak, sangat cocok untuk rambut panjangnya. Sebaliknya, begitu Doo membuka dan melihat hadiah dari sang istri, ia terperangah. Oh! Sebuah rantai jam cantik berlapis emas, cocok untuk arlojinya. Sesaat kemudian Dini mengatahui bahwa Dono telah menggadaikan arlojinya agar mendapatkan uang untuk membali sisir untuk istrinya.
Renungan:
Wanita semampai ini pulang ke rumah dengan penuh harap Dono pasti senang karena arloji satu-satunya hadiah perkawinan yang masih tersisa akan bisa dipakai lagi. Padahal sesungguhnya hatinya gundah. Selama ini Dono amat mengagumi rambutnya yang panjang dan indah itu. Kecewakah Dono lantaran ia memotong rambutnya?
Dini terkejut mendapati sang suami sudah pulang terlebih dahulu dan menunggunya diruang tamu. Tangan Dono menggenggam bungkusan kado yang siap diberikan kepada sang istri tercinta. Sesaat ia terkesima melihat rambut istrinya yang terpotong pendek. Meski tak berbicara sepatah kata pun, wajah pria ini menyiratkan rasa kecewa. Ia lantas menyodorkan hadiahnya ke hadapan sang istri. Ketika membuka kado itu, mata Dini terbelalak. Sekejab air matanya berlinangan. Di dalam kotak tampak sisir lipat model baru warna perak, sangat cocok untuk rambut panjangnya. Sebaliknya, begitu Doo membuka dan melihat hadiah dari sang istri, ia terperangah. Oh! Sebuah rantai jam cantik berlapis emas, cocok untuk arlojinya. Sesaat kemudian Dini mengatahui bahwa Dono telah menggadaikan arlojinya agar mendapatkan uang untuk membali sisir untuk istrinya.
Renungan:
Ralph Waldo Emerson, pengarang dan filusuf keamanan AS pernah mengatakan, “Cincin dan permata bukanlah hadian, tapi hanya apologia dari sebuah hadiah. Karena hadiah sejati yang mestinya kau berikan adalah bagian dari dirimu.”
Terkadang kita berpikir bahwa membarikan suatu hadiah dapat membuat pasangan bahagia. Tapi ketahuilah, hadiah yang jauh lebih bernilai adalah kasih dan kesetiaan.
















